Kala itu hujan turun sedikit lebat, petir menyambar dan angin begitu kencang. Di dalam kamar hotel yang ruangannya tak seberapa, terdapat dua insan yang tengah berbagi kamar. Mereka sepasang suami-istri namun rumahtangga mereka tak sehangat rumahtangga pada umumnya. Cinta yang menjadi bibit itu tak pernah ada pada diri mereka. Bahkan sedari pertama kenal pun, mereka hanya saling memunggungi satu sama lain. Hinata yang sedari kecil terkenal sebagai anak pemalu dan gagap jika berhadapan dengan siapapun tak mampu menghadapi Sasuke kecil yang begitu arogan dan pemarah. Jika mereka berdua bertemu maka bisa di ibaratkan seperti dua kutub magnet yang sama sekali tak bisa menyatu. Namun, kini mereka telah dewasa. Seiring waktu berlalu membuat mereka mengasah kualitas diri dari pengalaman hidup dengan cukup matang. Meskipun mereka masih jauh dari sikap dewasa, akan tetapi dengan Hinata yang mampu bersikap berani serta menekan kelemahannya, dan Sasuke yang mampu bersikap tenang...
Sudah hampir setengah jam Hinata menunggu dari yang di asumsinya. Belum lagi ia harus menghadapi perutnya yang berdemo meminta asupan. Wanita itu sontak meyakinkan diri lagi, Uchiha Sasuke adalah sosok yang pantang lari dari masalah. Dan ketika suara pintu berdaun dua itu berbunyi, firasat buruknya seketika luluh lantah. Hinata tanpa sadar bersuka cita. Sosok yang ditunggunya setengah mati tampil dengan kharisma yang membuat kalangan wanita kehilangan arah. Meskipun menyebalkan, ia mengakui aura memukau pria itu membutakan matanya sejenak. "Kuharap aku tak mengganggumu, Uchiha- san ." Uchiha-san ? Dalam hitungan detik alis Sasuke menekuk bak turunan terjal. Sementara itu Hinata telah menghadiahkan senyum sarkas miliknya membuat wajahnya semakin mengerut tak suka. "Ah... Aku lupa jika kita udah nikah. Seharusnya aku memanggilmu, Sasuke- kun , b enar kan !?" Sasuke langsung mendengus. Ia pun lantas duduk berseberangan dengan Hinata sambil menautkan jari-jemarinya. ...
Komentar
Posting Komentar